berawal dari sebuah renungan di kala malam
hanya saya dan sebuah lilin sebagai penerang di sana

melihat api yang menyala walau redup
walau ia tau umurnya tak panjang ia tetap berusaha menerangi dan menghangatkan malam itu
dan lilin yang dengan kerendahan hatinya membiarkan api itu melahapnya hingga habis
sehingga waktu sangatlah berarti saat itu

satu detik,.. api menyala dengan gagahnya dan sangat indah saya pikir dengan efek keheningan dan angin malam saat itu

lima detik,.. api sudah stabil dan mulai melahap lilin baik sekali engkau lilin

lima puluh detik,.. lilin sudah meronta ronta kesakitan, bahkan ada beberapa yang jatuh kebawah. sangat biadap kau api, sudah tau lilin itu tempat engkau hidup malah kau manfaatkan dan kau tinggalkan

dua puluh menit,.. lilin dan api sudah sangat sekarat, dan hawa dingin seperti hantu yang sedang menggentayangi saya ada pesan terakhir wahai api dan lilin?

dua puluh menit lima detik,.. gelap gulita, dan hawa dingin mulai bergentayangan kembali

hening dalam malam
melihat angkasa tak pernah lelap
angin dingin seakan memluk dan tak mau lepas
setelah itu saya berguman dalam hati

sungguh mulia apa yang kalian lakukan, api yang berusaha menghangatkan dan lilin yang murah hati

“seperti api dalam lilin yang selalu berusaha menghangatkan walau redup cahaya yang ia beri, walau ia tahu akan waktu yang  membunuhnya secara perlahan tapi pasti, ia tetap berkorbar melakukan apa yang ia bisa lakukan dan apa yang harus ia lakukan”