keduanya bagai sepasang kekasih yang tak bisa dipisahkan
ketika awan butuh pundak untuk disandarkan sang langit dengan murah hati selalu memberinya
ketika langit sangat tersiksa dengan panasnya matahari, sang awan berusaha meneduhkannya,
dan kita setiap hari sadar tak sadar adalah penonton setia kemesraan mereka yang tiap hari mereka selalu tunjukan

kita juga seperti penonton pertunjukan pantonim yang kadang tak mengerti apa yang sedang mereka tunjukan
seperti pertanyaan :

“apakah gunung gunung yang diselimuti oleh awan benar benar berwarna biru”
“apakah awan awan yang terbang diatas langit benar benar terbang”
“apakah langit yang berwarna biru benar benar berwarna biru”

tapi satu hal yang pasti, saya adalah salah satu penggemar berat mereka, awan dan langit, juga biru dan putih
suatu kombinasi warna yang luar biasa dapat menyejukan mata, hati, dan pikiran
ketika tak ada kesempatan melihat mereka
ada rasa rindu sangat terasa dalam benak
dan ketika melihat mereka dan merenung
terbersit suatu ironi dalam benak

sebenarnya langit tidaklah biru, coba dengar bisikannya “tidak semua yang terlihat, benar adanya dan tak semua yang terlihat dapat digapai”
tapi coba lihat awan dan dengar bisikannya “aku tau semua itu tapi aku tetap berusaha menggapai langit”