Banyak Jalan Menuju Roma, Mungkin orang yang dahulu membuat pernyataan ini belum pernah ke Indonesia, ( ya walaupun saya juga belum pernah ke roma, tapi mungkin di taun taun depan saya akan ke roma 😀 ). Kali ini saya akan mencoba mengshare pengalaman saya di berbagai daerah di indonesia mengenai jalan.

Jalan di Jawa Barat

9 – 17 oktober 2012 saya melakukan perjalanan ke Cianjur untuk membantu teman saya melakukan Pemetaan Geologi lanjut. Pemetaan Geologi Lanjut merupakan salah satu syarat kelulusan selain skripsi di Geologi Unpad tempat saya menimba ilmu.Tujuan dari Penelitian ini adalah memetakan Geologi daerah x seluas 10 x 10 Km. Penelitian kali ini berada di daerah Pacet dan daerah Cibeber dengan total luas daerah 20 x 20 Km.

“Menurut Peta sih ke arah utara belok dari sini ada jalan kok, tapi di sini kok gak ada ya?”. Itulah pertanyaan yang sering timbul ketika hendak mengunjungi suatu lokasi penelitian. Biasanya setelah berputar putar disana minimal 2 kali melewati tempat yang sama barulah kami menemukan apa yang disebut “jalan” oleh peta bakos yang menjadi kitab kami selama di lapangan.

Pemetaan Geologi Lanjut Ini mengharuskan saya untuk mengunjungi jalan jalan pedesaan, dari jalan yang beraspal, jalan yang beraspal setengah, jalan topeng, jalan tanah, hingga jalan sawah.

1.  Jalan AspalSimbol dalam peta garis lurus warna merah

    Jangan berharap menemukan jalan aspal di pedesaan seperti kita anggap jalan aspal di perkotaan, jalan aspal di pedesaan biasanya banyak “jebakan” berupa lubang, tanah, bebatuan, dan pasir.

2. Jalan Aspal Setengah – Simbol dalam peta garis lurus warna merah

    Untuk mengurangi biaya pembuatan jalan, biasanya para warga menyiasatinya dengan membuat jalan aspal setengah yaitu hanya membuat jalan di sisi kiri dan sisi kanan nya saja, bagian tengah dibiarkan rusak atau diberi bebatuan. Hati hati juga jalan seperti ini karena biasanya jalan seperti ini lebih sempit dan licin, juga ketika akan berpindah sisi dari sisi kiri ke kanan terkadang ban slip.

3. Jalan Topeng – Simbol dalam peta terkadang garis lurus terkadang garis putus putus berwarna merah

    Jalan topeng ini mungkin hanya sebutan dari saya pribadi saja. Maksudnya adalah jalan yang tak jelas, seperti tidak ada padahal ada, seperti bagus padahal jelek, pokoknya jangan melihat dari luarnya saja karena belum tentu dalam nya seperti apa :D. Contohnya di dalam peta ada jalan memutar putus putus tetapi nyatanya hanyalah jalan tanah kecil melewati perumahan warga lalu beberapa menit kemudian ada jalan besar disana tapi akses menuju jalan besar itu hanyalah jalanb kecil itu.
Contoh yang lain adalah ada jalan berbelok arah, kecil, dan di ujungnya ada rumah besar. Selintas terlihat itu adalah jalan menuju rumah tersebut dan buntu, tapi jangan salah biasanya itu merupakan jalan masuk menuju jalan besar di belakangnya.
Memang membingungkan apabila menemui Jalan Topeng seperti ini yang hanya ada di daerah jawa barat       menurut pengalaman saya

4. Jalan Tanah – Simbol dalam peta garis putus putus berwarna merah

    Jalan tipe seperti ini mungkin yang paling sering ditemui apabila sudah memasuki daerah perkebunan warga, dengan sedikit pemukiman, dan kontur yang terjal. Jalan tanah hanya seperti jalan untuk dilalui orang tetapi sudah biasa dilalui oleh motor, biasanya jalan ini menyusuri punggungan dengan pinggiran jurang. Terkadang apabila melewati sungai disambung dengan jembatan seadanya yang sedikit tidak aman kalau menurut saya. Apabila hujan jalan ini sudah tidak bisa dilewati kecuali oleh motor motor trail karena akan sangat licin.

Jalan tanah menanjak
Jembatan Seadanya
5. Jalan Sawah Simbol dalam peta garis putus putus berwarna merah, terkadang tidak ada
    Terakhir jalan yang lumayan membingungkan adalah jalan sawah. Dinamakan jalan sawah karena memang jalan ini melewati sawah dan sangatlah kecil dan juga licin. Ketika melewati jalan ini saya selalu berfikir dalam hati “apakah benar jalan ini memang bisa dilewati motor” karena seperti jalan untuk para petani tapi lebih besar sedikit. Terkadang ketika melewati jalan ini kita harus menyebrangi sungai tanpa menggunakan jembatan, jadi kalau hujan sudah pasti jalan seperti ini tidak akan bisa dilewati oleh motor.
Jalan di Luar Pulau Jawa
   Mengenai jalan di luar pulau jawa menurut pengalaman saya melihat jalan di sulawesi tenggara, jalan di sumatera selatan, sumatera barat, lampung, NTT, NTB yang membedakan mungkin besarnya jalan disana.
Untuk jalan penghubung provinsi atau kota sudah pasti beraspal dan tidak ada jebakan, tetapi berkelok kelok mengikuti kontur. Jalan pedesaan di luar jawa biasanya dibiarkan tanah dengan sedikit bebatuan agar tidak licin, tapi tidak ada jalan sawah, jalan topeng, dan jalan setengah aspal disana, dan jalan yang relatif lebih besar.
    Jelas saja berbeda dengan jalan di pulau jawa karena disana masih jarang penduduk dan jarang kendaraan yang lewat, coba kita lihat nanti beberapa tahun kedepan mungkin akan berbeda.
  
Jalan di Selagai Lingga Lampung Tengah
Jalan di Rambang dangku Sumatera Selatan
Jalan di Konawe Utara Sulawesi Tenggara
 
 
Jadi menurut saya peribahasa yang saya cantumkan diatas tidak sepenuhnya tepat, mungkit lebih tepatnya Banyak jalan menuju cianjur hhe