17 adalah hari dimana pahlawan kita memproklamirkan kemerdekaan kita, bangsa indonesia,
17 adalah usia dimana kita sudah dapat disebut dewasa
17 adalah turunnya Al Quran yang dikenal dengan pristiwa Nuzulul Quran sebagai kitab suci umat islam

17 adalah jumlah kami, kami para “pejalan” , “pendaki” , “penggiat alam” yang tergabung dalam organisasi pencinta alam dan rimba MAAR Geologi Unpad dalam perjalanan kali ini menuju gunung rinjani lombok (3726 mdpl)

 

Gunung Rinjani adalah gunung yang berlokasi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gunung yang merupakan gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3.726 m dpl serta terletak pada lintang 8º25′ LS dan 116º28′ BT ini merupakan gunung favorit bagi pendaki Indonesia karena keindahan pemandangannya. Gunung ini merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Rinjani yang memiliki luas sekitar 41.330 ha dan ini akan diusulkan penambahannya sehingga menjadi 76.000 ha ke arah barat dan timur.
Secara administratif gunung ini berada dalam wilayah tiga kabupaten: Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Barat  (Wikipedia)
 
Perjalanan Bandung – Lombok 5 – 8 September 2012

Hari ini 5 september 2012 kami berangkat dari Bandung yaitu melalu stasiun kiara condong. Sudah jauh jauh hari kami memesan 17 tiket kereta api kelas ekonomi dengan tujuan Bandung – Yogyakarta, karena untuk mendapatkan tiket ekonomi yang lebih “murah” tidak dapat didapat secara langsung pada hari- H karena akan kehabisan. Fasilitas yang didapat pada kereta ekonomi sekarang ini tidak seperti dulu ketika pada tahun tahun sebelumnya. Pemeriksaan yang lebih ketat dengan diharuskan membawa KTP yang sesuai dengan nama yang tertera di dalam tiket kereta tidak lagi memungkinkan masuknya penumpang penumpang liar di dalam kereta.
20.40 kereta tiba di stasiun kiara condong, 10 menit sebelum waktu yang tertera di tiket. Kekurangan dari kelas ekonomi kalau menurut saya hanya masih diperbolehkan nya pedagan pedagang asongan yang masuk ke dalam kereta sehingga cukup mengganggu dengan suara suara menawarkan barang dagang yang cukup bising.

Perjalanan menggunakan kereta ekonomi yang sudah mulai membaik fasilitasnya
Esok hari, 6 september 2012 pukul 6.30 kami sampai jogja dengan mata yang masih terkantuk kantuk. Rencananya kami akan memesan tiket kelas ekonomi jurusan jogja banyuwangi, tetapi karena kereta ekonomi saat itu sudah habis maka kami mendapatkan tiket kelas ekonomi AC dengan harga yang berbeda 3 kali lipat daripada kelas ekonomi biasa yaitu Rp 120rb. Berbeda dengan kelas ekonomi, pada kereta ini tidak ada pedagang yang masuk kedalam kereta,Sebagai gantinya terdapat cafetaria di dalam kereta yang menyediakan nasi goreng, kopi dan lain lain
Pukul 21.30 kami sampai di pelabuhan ketapang banyuwangi. Prinsip kami para backpacker yaitu dengan biaya seminimal mungkin asal tujuan tercapai. Kami menumpang menginap di mesjid besar di ketapang, dengan biaya hanya rp 3000 satu malam untuk biaya kebersihan masjid. Walaupun tempat yang seadanya tetapi sudah cukup bagi kami untuk menghilangkan lelah selama 24 jam menaiki kereta.
Esok harinya 7 september 2012 pukul 08.00 kami berangkat menuju bali yaitu Pelabuhan Gilimanuk menyebrang dengan kapal ferry dengan biaya Rp 6rb. Kira kira satu setengah jam kami menikmati indahnya selat bali disertai sejuknya angin sepoi sepoi dan kumpulan camar yang seolah berbisik kepada kami “selamat datang di rumah kami, Bali, pulau dewata.” Perjalanan dilanjutkan menuju Pelabuhan Padangbay, dari Pelabuhan Gilimanuk kami menaiki kendaraan umum seharga Rp 50rb  perorang, mungkin saja bisa lebih murah tergantung dari kesepakatan sebelum berangkat. Selama perjalanan kami disuguhkan pemandangan khas Bali yaitu berupa Pura, persawahan dengan kontur tinggi, perbukitan hijau, dan gunung agung yang menjulang tinggi dengan segala mitosnya yang ada disana.

Selat Bali
Pukul 14.30 perjalanan menggunakan Bis selesai kami sampai di Padangbay, lalu kami istirahat makan ayam goreng yang ternyata dalam bahasa bali disebut “lalapan” dengan harga Rp 14 ribu sudah termasuk teh manis dan dengan porsi yang banyak. Dari Padangbay kami menyebrang menuju Pelabuhan Lembar Lombok dengan menggunakan Ferry dengan biaya Rp 36rb. pukul 21.30 kami sampai di lembar dan kemudian kami melanjukan perjalanan menuju sembalun menggunakan elf dengan biaya Rp.45rb. Pukul 3.00 8 September 2012 kami tiba di pos pengamatan gunung api rinjani di sembalun dan beristirahat untuk perjalan besok yang akan sangat melelahkan.
Gunung Rinjani dari Pos 0 – Pos Pengamatan Gunungapi

Pendakian

 
Kebanyakan pendaki memulai pendakian dari rute Sembalun dan mengakhiri pendakian di senaru, karena bisa menghemat 700m ketinggian. Rute Sembalun agak panjang tetapi datar, dan cuaca lebih panas karena melalui padang savana yang terik (suhu dingin tetapi radiasi matahari langsung membakar kulit). krim penahan panas matahari sangat dianjurkan.
Dari Rute Senaru tanjakan tanpa jeda, tetapi cuaca lembut karena melalui hutan. Dari kedua lokasi ini membutuhkan waktu jalan kaki sekitar 7 jam menuju bibir punggungan di ketinggian 2.641m dpl (tiba di Plawangan Senaru ataupun Plawangan Sembalun). Di tempat ini pemandangan ke arah danau, maupun ke arah luar sangat bagus. Dari Plawangan Senaru (jika naik dari arah Senaru) turun ke danau melalui dinding curam ke ketinggian 2.000 mdpl) yang bisa ditempuh dalam 2 jam. Di danau kita bisa berkemah, mancing (Carper, Mujair) yang banyak sekali. Penduduk Lombok mempunyai tradisi berkunjung ke segara anakan utk berendam di kolam air panas dan mancing. (Wikipedia)


Sembalun – Plawangan 8 September 2012



Jalur Sembalun – savannah yang mendominasi


Pukul 9.30 kami memulai perjalanan dari pos 0 atau pos pengamatan gunung api. Karena Rinjani merupakan kawasan konservasi, yaitu kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, para pendaki yang ingin masuk kedalam nya dikenakan biaya yaitu Rp 10rb per orang.

Sepanjang perjalanan menuju Pos 1, pemandangan yang terlihat adalah padang savannah dengan sedikit pepohonan tinggi serta matahari yang sangatlah menyengat. Dianjurkan untuk menggunakan pakaian yang tertutup dan menggunakan Sunblock agar kulit kita tidak terbakar oleh ganasnya matahari. Perjalanan menuju Pos 1 ditempuh selama 3 jam.

Pos 1 – Saatnya makan siang
Dari Pos 1 menuju Pos 2 tidaklah terlalu jauh, perjalanan dapat ditempuh selama 1 jam. Pada Pos 2 terdapat sumber air yang bisa dimanfaatkan oleh para pendaki untuk mengisi perbekalan air minum.
Perjalanan dari Pos2 menuju Pos 3 ditempuh selama 3 jam. Banyak pendaki yang menginap di pos 3, kami datang di Pos 3 pada pukul 18.00 dan harus tetap melanjutkan perjalanan menuju plawangan karena beberapa orang dari tim kami sudah ada yang berangkat duluan dan pergi menuju plawangan.
Perjalanan dari Pos 3 menuju Plawangan sangat melelahkan dan sangat jauh, Hawa yang dingin menusuk serta angin yang berhembus kencang. Hal tersebut ditambah lagi dengan hari yang sudah gelap sehingga kami diharuskan menggunakan headlamp untuk menjaga agar pandangan tetap jelas.
Di perjalan menuju Plawangan ada tanjakan yang dinamakan dengan tanjakan penyesalan, karena saking menanjak dan panjang nya tanjakan ini banyak pendaki yang merasa menyesal sudah datang ke gunung rinjani ini, mungkin begitulah asal muasal dari nama :tanjakan penyesalan”.
kami sampai di Plawangan pukul 23.30 dan sudah disambut oleh tim sebelumnya yang terlebih dahulu datang.
Pos 2 – tempat mengisi perbekalan air minum

Indahnya Plawangan 9 September 2012

Seharusnya hari ini kami melakukan perjalanan Summit Attack menuju puncak rinjani, seperti pada rencana awal. Tapi dikarenakan kondisi tim yang sangat lelah karena perjalanan menuju plawangan yang tidak diduga sebelumnya, Kami memutuskan untuk tinggal dulu satu hari di Plawangan menikmati pemandangan segara anak tepat didepan camp kami menginap.
Plawangan memang menjadi pilihan utama untuk mendirikan camp bagi para pendaki, selain karena tempatnya yang datar, suasana nya yang menyenangkan dan pemandangan nya yang indah, di plawangan terdapat sumber air yang dapat dipakai untuk memasak, mencuci, dan mengisi perbekalan untuk minuman. Di plawangan banyak sekali tumbuh bunga Edelweis yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendaki.
Siang itu di Plawangan, kadang matahari terasa menyengat sekali, kadang kabut datang dan angin dingin berhembus, bergantian terus seperti itu. Cuaca di Plawangan memang sangatlah tidak menentu..
Plawangan – hamparan edelweis dan kabut yang datang dan pergi

Puncak Rinjani 10 September 2012 

“Maka Nikmat Tuhan Mana Lagi Yang Kau Dustakan” itulah kalimat yang saya tuliskan pada secarik kertas  A4 menggunakan spidol warna hitam, malam itu angin berhembus kencang, jam sudah menunjukan pukul 20.00 WITA. Jaket tebal, sarung tangan, dan penutup telinga tidaklah cukup melawan dinginnya angin yang berhembus dari plawangan sembalun, gunung rinjani, lombok, NTB
“Besok pukul 2 pagi adalah waktunya kita menaklukan puncak ketiga tertinggi di indonesia, puncak rinjani!, ingatlah 6 hari peluh dan keluh yang kita keluarkan adalah untuk hari esok,” begitulah dokrin yang kita terima dari ketua regu sebelum kita terlelap.
Esok harinya, dengan mata yang masih berat, tubuh yang menggigil, angin yang berhembus ganas, udara yang  sanggup membuat tangan menjadi mati rasa, kabut yang menghalangi pandangan, kami memulai perjalanan menuju puncak 3726 m. Ternyata tim kami merupakan tim yang paling pertama melakukan perjalan puncak pada pagi itu, ketika kami melewati camp tim lain yang didominasi oleh para pendaki mancanegara (dengan porter yang mendampingi mereka)
“Perjalanan malam ini sepertinya akan lebih mudah dan lebih cepat, atau mungkin kita akan menunggu dulu satu dua jam di puncak untuk menikmati sunrise,” pikirku kala itu.
Tapi ternyata  dugaanku salah besar, baru berjalan kira kira 3 jam menuju puncak, kita sudah disusul oleh beberapa rombongan bule berbadan besar dan tinggi. Saya akui mereka mempunyai fisik yang lebih bagus daripada rombongan kami. track yang kami lalui menuju puncak 3726 m seperti track track sebelumnya yang mendominasi gunung rinjani : yaitu berupa pasir, kerikil, dan sedikir sekali vegetasi. hanya perbedaan nya kali ini angin yang sangatlah kencang dan kemiringan lereng yang lebih besar sekitar 40 – 60 derajat.
“wahh dek kalian termasuk yang beruntung loh, selama 5 tahun saya menjadi porter belum pernah toh angin nya sedashyat ini,” dengan santai nya kata kata itu terucap oleh porter yang kami temui disana. Memang angin kala itu seperti sedang marah kepada kami, para penggiat alam yang masih kurang kesadaran tentang bagaimana mencintai alam
“haii kalian manusia sombong, baru saja kutiupkan sedikit angin dingin kepada kalian agar kalian ingat bahwa kalian itu kecil dan tidak ada apa apa nya,” 
 
Waktu sudah menunjukan pukul 05.00 WITA tapi kamu belum saja mencapai puncak, ditambah lagi angin yang bertambah ganas dan tebing yang sangat curang. Anggota tim terlihat sudah mulai sulit bernafas dikarenakan udara dingin dan oksigen yang sangat menipis, tapi kami harus tetap bergerak menuju puncak ini. Walaupun dalam keadaan yang mendesak, kami para pencinta alam dituntut untuk selalu bertindak pintar dan cerdas, Tali webbing yang sudah kami siapkan sebelumnya kami gunakan sebagai pengaman kita untuk bergerak. Alhasil pelan pelan kami bisa kembali meneruskan perjalanan menuju puncak hingga angin kembali lebih tenang.
Pukul 06.00 WITA kami masih belum juga mencapai puncak, padahal dari catatan perjalanan yang sudah kami baca, perjalanan menuju puncak memakan waktu 5 jam saja. Kami istirahat sejenak untuk menikmati sunrise dari ketinggian “hampir” menuju puncak dengan danau segaraanak seperti kecil dibawah kami berusaha untuk menampung matahari yang seakan mau tumpah dengan cahaya nya yang ke-kuning-merah-an “Subhanallah indahnya ciptaan Allah.”

Sunset, dari ketinggian beberapa meter sebelum puncak
Gunung rinjani mempunyai istilah yang unik pada tanjakan yang menanjak, terus menerus, dan seperti tak ada akhirnya yaitu “Tanjakan Penyesalan“, karena konon ketika para pendaki melewati tanjakan ini dalam benak mereka muncul rasa menyesal dikarenakan tanjakan yang tak kunjung berakhir. Tapi melihat tanjakan ini, pada pukul 07.00 WITA, tanjakan terakhir menuju puncak rinjani, menurut saya “tanjakan penyesalan”  itu tidak ada apa apa nya dibandingkan dengan tanjakan ini. kemiringan sekitar 60 derajat, ditambah udara yang sangat sedikit, jalan yang berbatu, seperti tiada akhir. Fisik seperti sudah habis, yang membantu hanyalah keinginan yang sangat besar untuk menuju puncak.

Tanjakan Terakhir menuju puncak
Akhirnya, pukul 08.00 WITA kami berhasil sampai di puncak 3726 m. Puncak gunungapi tertinggi kedua! dengan kumpulan awan yang berada di bawah kita, segara anak yang terlihat jauh dan sangat indah di bawah kita, birunya samudera seperti sebuah mahakarya Maha Pencipta berkanvaskan birunya langit disana.
Sekitar selama setengah jam saja kami disana, karena udara dingin yang sangat tipis beserta angin yang kencang membuat kami harus segera kembali turun dari puncak
kembali saya berguman dalam hati
“Maka Nikmat Tuhan Mana Lagi Yang Kau Dustakan”

akhirnya, puncak
negeri di atas awan


Puncak Rinjani Telah Kita Taklukan, apalagi selanjutnya?

11 September 2012 

Hari ini hamparan edelweis  seakan melambaikan ucapan selamat tinggal kepada kami 17 orang rombongan dari MAAR Geologiunpad. Tujuan utama kami sudah selesai yaitu menaklukan Puncak Rinjani 3726 m.

Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui 

Setelah menaklukan Rinjani sangat disayangkan jika tidak diteruskan menuju Danau Segara Anak

 

Segara Anak merupakan sebuah danau yang terletak di kaldera gunung Rinjani Desa Sembalun LawangLombok, Nusa Tenggara Barat. Segara (laut) anak berarti anak laut yang di yakini sebagai bagian dari laut yang terpecah ke dalam sebuah pulau. Hal ini di dasari atas warna air yang biru seperti laut. Danau ini terletak pada ketinggian kurang lebih 3775 mdpl. Jika anda mendaki gunung Rinjani, umumnya Tour Guide akan membawa anda melintasi danau ini dan bermalam di sana.
Banyak hal menarik yang dapat dilakukan di danau ini. Di danau ini terdapat banyak ikan mulai dari ikan nila, mas, dan mujair. Ikan-ikan ini sengaja dikembangbiakkan oleh pemerintah dan masyarakat setempat untuk menambah daya tarik tersendiri dari danau segara anak. Jangan lupa untuk menyiapkan peralatan pancing bagi anda yang berminat mendaki gunung Rinjani.
Para pendaki Gunung Rinjani banyak yang membuat jalur pendakian dengan menyusuri lembah disamping danau untuk memberikan sesajen pada dewa didasar danau. Dari danau terlihat sebuah gunung volcano (Gunung Baru Jari yang berarti gunung baru jadi)yang merupakan anak gunung rinjani dan didekatnya terdapat sumber air panas yang dipercayai mampu mengobati berbagai penyakit kulit. Wikipedia

Perjalanan Turun Pelawangan – Segara Anak

Jangan anggap mudah perjalanan menuju segara anak, walaupun trek yang turun tetapi dengan slope yang lumayan besar dan trek bebatuan juga pasir. Ditambah lagi kondisi para pendaki yang tidak sama seperti awal pendakian. Perjalanan turun kami tempuh kira kira 3 jam perjalanan

Trek turun menuju segara anak

Kami tiba di segara anak kira kira pukul 12 siang. Awalnya kami berancana untuk melanjutkan perjalanan menuju senaru, tetapi warga lokal disana memberitahu bahwa perjalanan menuju senaru akan berbahaya ketika dilewati setelah pukul 6 sore. Mitosnya apabila ingin melanjutkan perjalanan malam di senaru diharuskan membawa obor api dan dianjurkan untuk menggelar tenda dan melanjutkan perjalanan esok hari karena ada banyak hal hal gaib katanya. Kami pun memutuskan untuk menggelar tenda dan menginap di segara anak

Jika melakukan pendakian melalui jalur senaru, Segara anak memang menjadi tempat persinggahan sebelum melanjutkan perjalanan menuju plawangan. Di sini terdapat sumber air bersih dan juga sumber air panas (kita bisa berendam disana, sangat cocok untuk melemaskan otot otot yang tegang selama perjalanan :D) sehingga sangatlah sayang untuk dilewatkan mengunjungi tempat ini.

Lembah tempat dimana sumber air panas berada

Danau berwana biru, tenang, langit biru dan gunungbaru jari merupakan latar dimana kami menggelar tenda. Sungguh Indah dan sangat cocok untuk beristirahat. Topografi segara anak berupa lembahan sehingga cuaca tidak terlalu dingin dan juga tidak terlalu panas

Segara anak dan gunungbarujari
Paradise 😀

Segara Anak – Senaru – Sengigi 12 September 2012 

seperti yang sudah kami rencanakan sebelumnya, hari ini kami memulai perjalanan dari pukul 9 pagi, Dengan sisa tenaga yang ada dan logistik yang sudah semakin berkurang. Perjalanan kali ini dimulai dengan menaiki beberapa bukit yang lumayan terjal, berjalan menyusuri punggungan sekitar bukit di segara anak, lalu kemudian setelah mencapai puncak bukit kemudian perjalanan diteruskan dengan menuruni bukit menuju senaru.

Pemandangan yang terlihat selama perjalanan turun menuju senaru lebih banyak didominasi oleh savana luas dan berpasir, lalu kemudian masuk kawasan hutan lindung yang rimbun dan gelap. Akhirnya pukul 6 sore kami tiba di senaru, walau hari sudah gelap, kami tetap harus melanjutkan perjalanan. Kami menyewa kendaraan berupa elf mini menuju senggigi.

Dua jam perjalan akhirnya kami sampai di senggigi, waktu menunjukan pukul 12 malam. Kami 17 orang manusia gunung, dengan pakaian kotor, muka kotor, bau badan tak jelas terdampar di pinggir jalan senggigi. Akhirnya setelah sekitar 2 jam kami luntang lantung tak jelas akhirnya kami menemukan sebuah mesjid kecil di pinggir jalan.

“lumayan lah untuk bersih bersih badan, istirahat sebentar dan siap siap untuk perjalanan besok menuju gili trawangan”