Hari ini tanggal 22 desember pada tahun 1928 di Jogjakarta terjadi kongres Perempuan Indonesia yang menjadi cikal bakal hari ibu nasional yang jatuh tepat hari ini
sebenarnya terjadi pergeseran makna dari arti kata hari ibu tersendiri, tapi masyarakat sudah terlanjur salah kaprah, toh tak ada salahnya merayakan kasih sayang ibu yang seharusnya sih bisa dirayakan tiap hari..

****

Ibu Juara Satu Di Dunia ya Ibuku,..
itu merupakan statement secara sepihak yang saya lakukan memang karena di dunia ini saya hanya punya satu ibu, dan sama dengan semua manusia yang hadir di dunia ini, dan memang benar ibuku itu adalah ibu juara satu di dunia secara denotasi, dan mungkin jika ada penerbit buku atau kalau saja ibuku ini punya jabatan atau selebritas mungkin cerita hidupnya bisa dijadikan sebuah buku. Seringkali tetangga datang ke rumah mengeluh tentang kesulitan hidupnya, tentang ekonomi yang menghimpitnya. Beliau (ibuku) langsung saja bercerita bagaimana beliau menajalani hidupnya ketika muda dulu. Dan mereka (tetangga2) yang datang menjadi pendengar setia bisa mendengarkan hingga berjam jam disana.

Ibuku lahir pada tanggal 31 Januari 1965 di sebuah keluarga pesantren di Subang, Pesantren Pagelaran. Ketika lahir ibuku tak sempat melihat bagaimana wajah ayah kandungnya karena beliau meninggal sebelum ibuku lahir.

Aki Sudibja, sebutan beliau merupakan pendiri pesantren pagelaran. alkisah Aki Sudibja bertemu dengan seorang gadis desa pendiam yang sangat cantik berwajah agak bule yaitu nenek ku (begitu cerita ibuku).
Tak perlu berlama lama Nenek, atau biasa dipanggil Emah oleh anak anak dan cucu cucu nya menerima pinangan dari Aki. Pernikahan ini menghasilkan dua buah anak yaitu Uwa Ageu dan Ibuku.

Ketika Ibuku masih dikandungan, Aki merupakan salah satu pejuang dari perkumpulan islam di kala itu, pada saat itu tahun 1965 sedang ramai ramai nya negara ini dengan kedatangan PKI (Partai Komunis Indonesia). Aki meninggal dunia ketika sedang berjuang melawan ketidak adilan di Negeri ini

Semua Bisa Terjadi Jika Kita Berdoa,..
Kalimat yang paling sering diucapkan ibuku adalah “Kita punya Allah kok tenang aja, asal berdoa nya yang bener yang sungguh sungguh”. Ibuku bersekolah di sekolah islam dari sekolah dasar hingga sekolah menengah, dan kemudian melanjutkan ke Unisba itu semua tidak dibiayai oleh orang tuanya.

“Semua nya dari Allah”.¬†Ketika SD hingga SMP semua biaya ditanggung oleh bibinya, dan kemudian ketika SMA beliau tidak lagi dibayai oleh bibinya, tetapi berpenghasilan dari kerjaan sambilannya saat itu, menjaga perpustakaan. ¬†“Uang mah ada aja, suka tidak diduga datangnya, asal kita jangan lupa kepadaNya”

Filosopi itulah yang bisa membuat beliau melanjutkan kuliah nya di Unisba dengan mendapatkan beasiswa. Ketika melanjutkan perkuliahan Ibuku adalah seorang aktivis partai, dan aktif di organisasi keislaman. Sampai sampai ibuku pernah ditawari menjadi caleg, mungkin bisa menjadi caleg termuda jika saja beliau ketika itu mengiyakan.