entah sudah berapa lama ia berjalan,
berjalan menelusuri jalan yang sudah ada

mungkin memang jalan ini dibuat untuk ku

hanya satu kalimat di benaknya “setiap jalan pasti akan menuju suatu tempat, walau berliku dan kadang tak terlihat”

bermacam rintangan ia lalui, baik itu berupa batu besar yang menghalang maupun kerikil yang bisa membuatnya tergelincir

***

kini ia tiba suatu persimpangan jalan
tak ada yang membedakan, yang ada hanya arah kiri dan arah kanan

memilih untuk tidak memilih adalah suatu pilihan

oleh karena itu dia diam, dan diam adalah energi terbesar yang hadir di dunia ini

****

mungkin raganya memang diam tapi tidak dengan pikirannya
pikiran yang tak pernah diam
selalu melompat kesana kemari mencari pegangan

****

hingga
sel tubuhnya mulai kekurangan energi!
mereka butuh regenerasi!
mereka akan sakit dan menjadi kotor jikalau diam!

****

kalau saja hidup tidak berevolusi
kalau saja semua momen dapat selamanya menjadi fosil dan kekal
kalau saja semua kosmik dapat stagnan di satu titik

***

jeda..
mungkin itu jawabnya dari semua diam
Sel tubuh akan bergerak
nafas akan melega
jiwa tidak dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah
berkelana dengan rapat tapi tidak dibebat

***

karena sejauh apapun kamu melangkah dan seberapa jauh keinginanmu untuk terbang 
jika tidak ada diam jika tidak ada jeda, kamu tidak bisa bersiap, bersiap untuk mengangkasa, menjemput asa yang sudah kau titipkan kepada bintang disetiap malam ketika kamu berdoa kepadaNya