Selamat Hari Kemerdekaan Wahai Tanah Airku Indonesia, Kami disini masih bagian dari Garudamu,. Selamat Ulang Tahun Yang ke 66 Wahai Tanah Airku Yang Tercinta” 
 
Ucapku dalam hati saja kala itu 17 Agustus 2011 Morombo, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara
Hari ini hari kemerdekaan Indonesia, hari libur, tapi kami disini sekitaran 20 orang masih saja melakukan aktifitas seperti biasa, mencari seonggok tanah hijau bernilai tinggi yang biasa kami sebut tanah laterit.
 
“Sekarang tanggal berapa sih? Waduh perwalian kita kapan ya? Jangan jangan kita terlewat lagi perwalian” Ucap saya dengan agak gugup kepada teman saya yang seharusnya sedang mengikuti perkuliahan, yang seharusnya sedang mengurusi perwalian di kampus
 
Ketika itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Padjadjaran semester 6 tetapi kami mengaku kepada pihak kontraktor bahwa kami sudah lulus, sehingga bias mendapat keuntungan berupa gaji yang lebih besar, fasilitas yang lebih memadai, “ya gak apa apa bohong sedikit kan asal kita mempunyai kemampuan yang sama seperti yang sudah lulus toh”
Salah satu danau yang masih asli di sana


Sinyal merupakan sesuatu yang sangat berharga, untuk meraihnya kami harus melewati jalan tanah, sangat licin ketika hujan, melewati beberapa sungai tanpa jembatan, dan beberapa kilometer jaraknya untuk mencapai kebon sawit tempat dimana satu satu nya sinyal itu berada. Apabila hari sedang hujan atau sehabis hujan besar mustahil kami dapat menuju tempat tersebut kecuali menggunakan mobil off road atau motor trail.
 
Singkat cerita, hari itu adalah hari yang sangat penting, hari terakhir kami mengambil mata kuliah apa saja yang harus kami ambil untuk semester selanjutnya, jadi walaupun semalam habis hujan besar, mobil dan motor off road tidak ada, kami nekat berangkat menggunakan motor vega R yang ada di camp. Oh ya saya belum menceritakan bagaimana kondisi camp kami yang kami gunakan untuk menginap selama 3 minggu. Camp kami atau sering kami sebut “Flying camp” Karena camp yang bisa “terbang” atau berpindah pindah sesuai dengan kebutuhan. Camp semua terbuat dari kayu beratapkan terpal, beralaskan tanah, dan kami tidur di “Karung bad” atau karung yang diikatkan dengan dua kayu dan Sleeping bag yang sudah kami bawa masing masing sebagai penyaman kami tidur. Cukup nyaman toh mengingat saya memang sudah terbiasa tidur dengan berbagai situasi dan kondisi yang ekstrim sekalipun. Untuk keperluan mandi, cuci, dan buang air kami memanfaatkan sungai yang ada di pinggir camp, air nya jernih dan segar sekali. Sebenarnya sih kami dilarang untuk buang air di sungai, karena sungai ini menerus menuju camp kontraktor tetangga, tapi karena kami agak agak bandel yasudah hajar saja toh, hhe.

Tempat kami menginap Flying Camp
 


TSpot Khusus tempat sinyal berada


Memang yah sesuatu itu akan terasa sangat berharga apabila kita sudah kehilangan atau tidak memiliki, dalam hal ini “Sinyal” , begitu bahagia nya ketika saya memijit beberapa angka di handpone sekedar memberitahu orangtua bahwa saya aman aman saja, menghubungi teman kampus untuk membantu pkrs saya, dan alhamdulillah nya saya tidak punya pacar jadi tak ada yang perlu saya beri kabar,  hhe..

kemudian saya berguman dalam hati ketika itu :
tepat 66 tahun yang lalu ketika para pemuda indonesia melakukan suatu aksi heroik yang tidak akan hilang walau terpangkas ganasnya hembusan waktu 
ketika itu mereka yang sekarang kita sebut “pahlawan” tidak ada dalam pikiran mereka apa yang akan terjadi 66 tahun yang akan datang dari hari ini
tidak ada dalam benak mereka apa yang mereka lakukan saat ini akan dicetak dalam buku sejarah yang dipelajari oleh anak sekolah dasar hingga SMA selama 66 tahun kedepan bahkan lebih
tidak ada dalam otak mereka bahwa nanti  200 juta penduduk indonesia yang hidup pada 66 tahun setelah saat ini semua mengenal mulai dari cerita hidup mereka, tutur kata mereka, bahkan cara mereka berpakaian
jika dari 66 tahun tersebut lahir 50 juta jiwa maka ada sekitar 3miliar anak sekolah dasar yang belajar bagaimana tiap kata bahkan tanda baca yang mereka lakukan ketika ini 
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal2 jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, 17-8-05
Wakil-wakil bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta

 

Begitu banyak jiwa jiwa yang mengenal dan mengenang mereka, mereka para pahlawan bangsa, mereka yang memerah dan memutih kan Indonesia
begitu banyak yang berharap bahwa kemerdekaan adalah bukan sekedar personifikasi belaka
bukan hanya sekedar “benda mati” yang dianggap “hidup”
yang milyaran orang pupuk dan tanam hingga besar sebesar dan setinggi burung garuda terbang mengangkasa
seagung merahnya darah mereka yang telah berjuang demi bangsa ini
dan sesuci putihnya tulang mereka yang mereka pakai untuk menendang para penjajah keluar dari bangsa ini
dan hari ini 17 agustus 2011 jauh daripada kehidupan keramaian, yaitu di suatu tempat terpencil di mana pepohonan tak bernama dan tak bertuan, duapuluhan orang juga mengenal dan mengenang mereka…
juga berharap bahwa kemerdekaan bukanlah sebuah personifikasi belaka yang tiap tahun kita kenang dan kita kenal
“Merahnya tanah laterit dan putihnya awan daerah morombo menjadi saksi kami ada disini, berjuang, bertahan, dan mengenang

morombo, konawe utara, sulawesi tenggara, Indonesia

tetaplah berjuang para pemuda Indonesia