Matahari sore kali ini, tidak seperti biasanya, Ia memerah dan cepat sekali tenggelam di ufuk barat.

Dengan pikiran yang sudah terbang melayang, dan tubuh yang lelah sehabis kerja

aku menjadi saksi bisu mereka, “Mereka yang terperdaya”.

Awan dan matahari kala itu seperti sedang memainkan peran, dengan horizon sebagai panggungnya.

“Mengapa kau tetap menungguku wahai awan?”

“Bukankah kau tahu aku akan pergi, dan tak bisa selalu bersamamu”?

Ia hanya tersenyum, tanpa berucap sesuatu