hari ini kembali ku merenung
merenungi sesuatu yang tak akan pernah usai
seperti mengikuti jalannya awan..
menyusuri kemana air di sungai pergi
mengamati pergerakan bintang di langit
semakin lama kita berfikir semakin jauh kita tersesat di dalamnya

Hidup….
untuk apa kita hidup?
merenunginya tak akan ada habisnya
tak terasa 20 tahun sudah kucari jawaban itu
kucari di dalam dalam tangisanku ketika usiaku hanya terhitungbulan
kucari didalam rengekanku meminta permen ketika usiaku 2,3 tahun
kucari di dalam pertanyaan mengapa ku harus pergi sekolah ketika usiaku 6,7 tahun
kucari di dalam kebimbanganku mencari jatidiri ketika usiaku 9,10 tahun
kucari di dalam rasa yang sangat jamak di dalam hati ketika usiaku 13,14,15 tahun
dan sampai kini
masih tetap kucari di dalam rasa penyesalanku apa yang telah kuperbuat untuk orang tua di usiaku kini

20 tahun sudah aku tak pernah lepas dari perhatiannya
begitu banyak yang ia lakukan
berjuta juta keringat ia cucurkan hanya untuk menggedongku pergi jalan jalan
berjuta juta air mata yang ia buang hanya untuk menahan agar ku tak menangis dahulu
berjuta juta materi yang ia keluarkan hanya untuk melihatku tersenyum mendapatkan sebuah permen

ooh tuhan apa yang harus ku lakukan
umurku sekarang 20 tahun tapi tak ada satu pun perbuatan yang dapat kubanggakan kepadamu
khususnya kepada mereka.. mereka yang telah menghadirkanku ke dunia ini

yang ada hanya rasa sesal kembali rasa sesal
rasa bersalah bercampur rasa ingin berbuat seusatu untuknya
rasa marah kepada dirisendiri bercampur rasa sedih karena 20tahun ini tak bisa berbuat apa apa

sekarang yang hanya bisa kulakukan hanya melakukan tugasku di dunia ini
seperti tugas tugas manusia lainnya
yaitu beribadah kepadaNya
mungkin dengan begitu sementara ku bisa melupakan rasa sesal, marah, sedih itu
dan kembali menatapi jalan yag lurus yang telah diberikan olehNya

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku
(Q.S. Ad-Dzariyat [51]: 56)