tempat ini kotor, tempat tanah dan pasir berserakan

tempat ini sempit, tak ada celah untuk bergerak bebas
tempat ini sepi, hanya ada empat orang didalamnya
tapi..
tempat ini ramai, ramai akan cita dan bayang
tempat ini luas, luas akan imajinasi dan khayalan
tempat ini bersih, bersih…
di luar..
angin dingin
berkelibat menyerang
seakan berteriak ke dalam 
tetaplah didalam
didalam 
hangat.. paradoks 
panas… paradok
selalu bergerak… paradoks 
seakan berteriak melawan
cepatlah keluar
diluar yang terluar
gunung itu sudah minta dijemput
matahari yang masih memerah
langit biru yang baru bangun
awan putih yang masih merangkak di antaranya
kemudian berjalan…
perlahan berkeliling matanya
melihat indahnya hijau yang gelap
indahnya dingin yang berteriak
kemudian berpura
berpura kuat
berpura tegar
berpura paham
kemudian malu..
malu dia tak kuat
malu dia tak tegar
malu dia tak paham
mengapa matahari sangatlah kuat melawan bergantinya malam
mengapa awan sangatlah tegar berjalan dibawah matahari
mengapa langit selalu paham dan diam diantara keduanya
puncak jawabannya
tempat dimana ia berdiri sekarang
tempat dimana langit, awan, dan matahari berdiri sejajar
dengan kompak mereka berbisik
“maka nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan”