“Maka Nikmat Tuhan Mana Lagi Yang Kau Dustakan” itulah kalimat yang saya tuliskan pada secarik kertas  A4 menggunakan spidol warna hitam, malam itu angin berhembus kencang, jam sudah menunjukan pukul 20.00 WITA. Jaket tebal, sarung tangan, dan penutup telinga tidaklah cukup melawan dinginnya angin yang berhembus dari plawangan sembalun, gunung rinjani, lombok, NTB
Tak terasa besok, 11 september 2012 adalah hari ke enam kami 17 mahasiswa pencinta alam dan rimba geologi unpad (MAAR geologi) melakukan perjalanan ini.
“Besok pukul 2 pagi adalah waktunya kita menaklukan puncak ketiga tertinggi di indonesia, puncak rinjani!, ingatlah 6 hari peluh dan keluh yang kita keluarkan adalah untuk hari esok,” begitulah dokrin yang kita terima dari ketua regu sebelum kita terlelap.
Esok harinya, dengan mata yang masih berat, tubuh yang menggigil, angin yang berhembus ganas, udara yang  sanggup membuat tangan menjadi mati rasa, kabut yang menghalangi pandangan, kami memulai perjalanan menuju puncak 3726 m. Ternyata tim kami merupakan tim yang paling pertama melakukan perjalan puncak pada pagi itu, ketika kami melewati camp tim lain yang didominasi oleh para pendaki mancanegara (dengan porter yang mendampingi mereka) 
“Perjalanan malam ini sepertinya akan lebih mudah dan lebih cepat, atau mungkin kita akan menunggu dulu satu dua jam di puncak untuk menikmati sunrise,” pikirku kala itu. 
Tapi ternyata  dugaanku salah besar, baru berjalan kira kira 3 jam menuju puncak, kita sudah disusul oleh beberapa rombongan bule berbadan besar dan tinggi. Saya akui mereka mempunyai fisik yang lebih bagus daripada rombongan kami. track yang kami lalui menuju puncak 3726 m seperti track track sebelumnya yang mendominasi gunung rinjani : yaitu berupa pasir, kerikil, dan sedikir sekali vegetasi. hanya perbedaan nya kali ini angin yang sangatlah kencang dan kemiringan lereng yang lebih besar sekitar 40 – 60 derajat.
“wahh dek kalian termasuk yang beruntung loh, selama 5 tahun saya menjadi porter belum pernah toh angin nya sedashyat ini,” dengan santai nya kata kata itu terucap oleh porter yang kami temui disana. Memang angin kala itu seperti sedang marah kepada kami, para penggiat alam yang masih kurang kesadaran tentang bagaimana mencintai alam
“haii kalian manusia sombong, baru saja kutiupkan sedikit angin dingin kepada kalian agar kalian ingat bahwa kalian itu kecil dan tidak ada apa apa nya,” 

Waktu sudah menunjukan pukul 05.00 WITA tapi kamu belum saja mencapai puncak, ditambah lagi angin yang bertambah ganas dan tebing yang sangat curang. Anggota tim terlihat sudah mulai sulit bernafas dikarenakan udara dingin dan oksigen yang sangat menipis, tapi kami harus tetap bergerak menuju puncak ini. Walaupun dalam keadaan yang mendesak, kami para pencinta alam dituntut untuk selalu bertindak pintar dan cerdas, Tali webbing yang sudah kami siapkan sebelumnya kami gunakan sebagai pengaman kita untuk bergerak. Alhasil pelan pelan kami bisa kembali meneruskan perjalanan menuju puncak hingga angin kembali lebih tenang.
Pukul 06.00 WITA kami masih belum juga mencapai puncak, padahal dari catatan perjalanan yang sudah kami baca, perjalanan menuju puncak memakan waktu 5 jam saja. Kami istirahat sejenak untuk menikmati sunrise dari ketinggian “hampir” menuju puncak dengan danau segaraanak seperti kecil dibawah kami berusaha untuk menampung matahari yang seakan mau tumpah dengan cahaya nya yang ke-kuning-merah-an “Subhanallah indahnya ciptaan Allah.”
Gunung rinjani mempunyai istilah yang unik pada tanjakan yang menanjak, terus menerus, dan seperti tak ada akhirnya yaitu “Tanjakan Penyesalan“, karena konon ketika para pendaki melewati tanjakan ini dalam benak mereka muncul rasa menyesal dikarenakan tanjakan yang tak kunjung berakhir. Tapi melihat tanjakan ini, pada pukul 07.00 WITA, tanjakan terakhir menuju puncak rinjani, menurut saya “tanjakan penyesalan”  itu tidak ada apa apa nya dibandingkan dengan tanjakan ini. kemiringan sekitar 60 derajat, ditambah udara yang sangat sedikit, jalan yang berbatu, seperti tiada akhir. Fisik seperti sudah habis, yang membantu hanyalah keinginan yang sangat besar untuk menuju puncak.
Akhirnya, pukul 08.00 WITA kami berhasil sampai di puncak 3726 m. Puncak tertinggi kedua! dengan kumpulan awan yang berada di bawah kita, segara anak yang terlihat jauh dan sangat indah di bawah kita, birunya samudera seperti sebuah mahakarya Maha Pencipta berkanvaskan birunya langit disana. 
Sekitar selama setengah jam saja kami disana, karena udara dingin yang sangat tipis beserta angin yang kencang membuat kami harus segera kembali turun dari puncak
kembali saya berguman dalam hati
“Maka Nikmat Tuhan Mana Lagi Yang Kau Dustakan”

Segara anak from 3726 m