Desa Mangganipi, Kodi, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur 24 juni 2012

Ini pertama kali nya saya disuruh menjelaskan kepada orang lokal sudah panjang panjang dan dijawab pake bahasa lokal culingak cilinguk teu ngarti ahahaa bahwa disitu ada titik yang harus di bor tanahnya untuk menentukan  di daerah tersebut potensi atau tidaknya mengeluarkan air tanah
setelah itu saya baru sadar bahwa walaupun mereka bisa bahasa indonesia tetapi kalau tidak menggunakan logat timur mereka tidak akan mengerti, seperti penekanan kata “mandi dulu, sudah!”. Pendidikan memang sesuatu yang sangat mahal di sana, satu SD hanya ada 2 atau 3 guru saja, dan itu pun tidak selalu ada tiap hari mengajar, dengan segala keterbatasannya baik itu prasarana maupun Sumber Daya Mengajar nya.
Perjalanan ke sumba ketika itu sangatlah menggugah sebenarnya, karena ketika itu sumba sedang musim kemarau, sangat sangatlah susah air disana. Di Desa Mangganipi mereka harus berjalan paling dekat 10 km untuk mencapai sumber air terdekat yang ternyata air nya payau, air tersebut mereka gunakan untuk keperluan minum dan cuci
Bau tak sedap selalu tercium ketika mendekati mereka, jelas saja ketika saya tanya satu bulan tidak mandi bagi mereka hal yang biasa karena kesulitan air disana..

“Sebenarnya air itu tidak layak diperjualbelikan karena air adalah hak rakyat”

Hal itu tak berlaku disana, untuk mengatasi kesulitan air disana, air pun dijual. biasa nya menggunakan kendaraan tangki, yang lumayan harganya satu tangki bisa sampai beratus ribu tergantung jarak yang ditembuh nya.
Listrik? listrik disana juga sesuatu yang jarang ketika sudah sampai ke pelosok pelosok sumba. untuk mengatasi nya mereka menggunakan panel surya di atas rumah adat mereka sekedar sebagai penerangan ketika malam tiba