“Sebenarnya air itu tidak layak diperjualbelikan karena air adalah hak rakyat”

kata kata itu yang menemani perjalanan kami dari ibukota sumba barat daya “waitabula” Nusa Tenggara Timur menuju “mangganipi” planning site perkebunan jagung tempat rombongan kami melakukan penelitian.

Di sepanjang jalan yang agak kurang layak disebut jalan menuju mangganipi, rumah adat sumba dan orang asli sumba yang sedang membawa jerigen berisi air adalah pemandangan yang sering terlihat,
mereka harus berjalan berkilo kilo dengan membawa jerigen berisi air untuk mencari “sumber kehidupan” mereka sekedar untuk keperluan mandi dan buang air, dan saya perhatikan kebanyakan dari mereka adalah anak kecil.

dan ternyata anak anak polos itu memang disuruh oleh orangtua nya tiap hari untuk mengambil air untuk keperluan keluarga nya, karena kegiatan apalagi yang bisa mereka lakukan, sekolah di daerah mangganipi hanya ada satu : “Sekolah Dasar” Mangganipi. dan itu pun kurang layak dari segi bangunan dan pengajar nya

“jangan sekolah dulu kamu! kalau kamu sekolah siapa yang mau ambil air?” ambil air sudah! 
mungkin kira kira seperti itulah dokrin para orangtua yang mereka lakukan 


Sumber air / spring dan kegembiraan anak anak kecil disana


Adat sumba yang memberatkan

Pemandangan lain yang sangat sering terlihat di sini adalah rumah adat sumba dengan seonggok batu atau beton yang merupakan “kuburan” keluarga, hewan ternak seperti kerbau, kuda, dan babi di setiap rumah.
dan ternyata itu semua merupakan adat khas sumba yaitu berdasarkan kepercayaan mereka yaitu kepercayaan “merapu”

merapu merupakan agama asli sumba yang masih menganut “animisme” atau sistem keyakinan yang berdasarkan kepada pemujaan arwah-arwah leluhur
setiap ada anggota keluarga yang meninggal, keluarganya yang masih hidup wajib melakukan ritual yaitu mengkorbankan setidaknya satu ekor kerbau (satu ekor kerbau harganya sekitar 15 – 30 juta) jumlah kerbau yang dikorbankan tergantung dari pangkat sosial keluarga yang bersangkutan.
dan jenazahnya sendiri disimpan di dalam batu atau beton yang ada di halaman rumah ditutup dan dikunci rapat rapat, jika ada anggota keluarga lain yang meninggal maka jenazah nya pun di simpan ditempat yang sama dengan jenazah yang lain nya yang sudah ada disana.
selain itu keluarga harus melakukan upacara adat dan mengundang warga warga sekitar untuk melakukan “pesta”, nah ini yang saya kurang paham bukannya berbela sungkawa tapi malah melakukan pesta, hmmm .

warga sumba memang tak jauh dari pesta, pemotongan kerbau, dan upacara adat,
setiap ada warga sumba yang mempunyai anak diharuskan memotong kerbau babi atau kuda, setiap ada warga sumba yang menikah juga sama diharuskan melakukan pemotongan, bahkan apabila ada warga sumba yang pindah rumah pun sama mereka diharuskan melakukan pemotongan ternak..

alhasil jumlah hewan seperti kerbau, kuda, babi, sapi di sini jauh lebih banyak daripada kendaraan, karena untuk membeli kendaraan warga sumba tidak bisa membeli di pulau sumba, mereka harus membeli di luar pulau seperti di pulau bali, flores, atau sumbawa, karena di pulau sumba tidak ada dealer kendaraan yang dapat melayani


Rumah adat sumba, lantai pertama untuk menyimpan ternak, dan pasti tidak ada listrik disana


Keindahan Alam Sumba

10 hari saya melakukan perjalanan di sana, dan bukan hanya kesulitan air dan adat yang memberatkan saja yang dapat bercerita, tapi keindahan alam disana terutama keindahan pantai sumba yang masih belum banyak wisatawan datang kesana,
pantai dengan pasir putih yang menggoda, langit timur yang berbeda dengan langit indonesia barat, serta cuacanya yang sejuk dikarenakan pulau sumba secara geografis berada di daerah selatan Indonesia yang lebih dingin daripada wilayah indonesia lainnya.

Pantai Mandora, sumba barat daya, arus air laut yang tertahan karang dan air laut yang biru merupakan pesona tersendiri, sehingga kita bisa berenang dan menikmati putihnya pasir disana



Pantai Kita Sumba barat daya, garis pantai yang lurus membentang, pasir putih bersih dan ombak yang menantang untuk surfing, banyak wisatawan dari australia yang datang kesini untuk berselancar



Danau Weekuri

Danau Weekuri merupakan danau air payau yang mungkin jarang sekali ditemukan di daerah lain di Indonesia. Air laut yang bersifat payau tertahan arusnya dan masuk melalui celah celah di tebing gamping yang seakan menjadi batas alami dengan laut, yang sering disebut sebagai morfologi lagoon. Selain air payau dari laut, di danau ini juga terdapat beberapa sumber mata air di beberapa tempat, sehingga  warna danau ini bervariasi, ada yang berwarna cerah, agak hijau, dan gelap, ada yang hangat, dan ada yang dingin. 

Kita dapat dengan bebas berenang di danau ini, karena air yang tak berarus dan juga tidak dalam, sungguh sangat menyenangkan berada disana. Untuk menuju Danau Weekuri kita tidak akan menemukan papan penunjuk jalan apapun menuju kesana, satu satu nya cara adalah bertanya ke penduduk sekitar. Sepanjang perjalan menuju ke danau, kita akan disajikan rumah adat khas sumba yang sangat unik.

Pemandangan yang disajikan selama perjalanan

Berenang di Danau Weekuri

Narsis dikit boleh lah 😀

Pantai Umbungedo

Bagi anda yang ingin melihat pantai dengan latar belakang kampung adat, dan tombstone atau batu kubur khas Sumba Barat Data, Pantai Umbungedo mungkin bisa menjadi pilihan. Pantai Umbungedo masih masuk dalam Kecamatan Kodi, untuk menuju pantai ini juga tak ada papan penunjuk, satu satu nya petunjuk yaitu pantai ini terdapat dekat dengan SD Pero dan tak jauh dari Pantai pero, Kodi.

Selain Rumah adat, Tombstone, dan danau air payau, Pantai Umbungedo memiliki ombak yang kencang, sehingga sangatlah cocok bagi anda yang ingin berselancar. Biasanya apabila musim libur tiba, banyak wisatawan mancanegara yang datang menuju ke pantai ini untuk berselancar.


Danau air payau dengan latar belakang kampung adat sumba

Pantai umbungedo, masih asli

Tombstone atau batu kubur

Pantai Pero

Pantai Pero merupakan pantai yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan, baik itu lokal maupun wancanegara. Ombak nya yang bagus untuk selancar, pasir yang putih, sunset yang sangat indah, dan Pantai Pero terdapat tempat seperti semacam teluk yang bisa dipakai untuk berenang.
Karena banyak wisatawan yang datang ke sini, di Pantai Pero terdapat berbagai penginapan dengan harga 150rb per malam temasuk makan pagi, siang, dan malam.


Sunset di Pantai Pero

Spot untuk berenang di Pantai Pero

Berselancar


Pantai Oro

Pantai Oro merupakan pantai yang paling dekat dari kota waitabula. Pasir putih, hamparan rumput laut, dan gugusan karang serta tebing gamping menjadi ciri khas pantai ini.
Untuk menuju pantai oro, tak ada papan penunjuk di pinggir jalan, satu satu nya penanda menuju pantai ini adalah jalan dekat gedung TNI disama.

Pasir Putih dan rumput laut


Tebing Gamping Pantai Oro



Pantai Mananga Aba (Pantai Kita)

Pantai yang terkenal dengan pasir putihnya, garis pantai yang membentang dan ombak yang menantang untuk olahraga surfing.
untuk menuju pantai kita dari kota waitabula tak ada penunjuk jalan sebagai petanda. Ketika anda melihat ada SD di pinggir jalan dan papan yang bertulisan dilarang menambang pasir pantai, maka itu merupakan jalan masuk menuju pantai kita. Dari persimpangan itu kira kira dapat ditempuh 30 menit menggunakan motor ataupun mobil.

Pasir Putih Pantai Kita

Menjelang sore di pantai kita


Pantai Katewel

Pantai Katewel merupakan pantai terakhir apabila kita mengikuti jalan dari kota waitabula menuju ke katewel, lokasi nya tidak jauh dari pantai kita. Selain itu kita juga bisa melewati jalan tembus berupa jalan tanah, tetapi jalan itu hanya bisa dilalui apabila kita menggunakan motor trail.
Pantai katewel terkenal dengan produksi pasir pantai nya yang digunakan sebagai bahan bangunan di daerah pulau sumba. Sepanjang pantai terlihat pemandangan warga lokal yang sedang mencari ikan, rumput laut, ataupun sedang menambang pasir yang merupakan sumber mata pencaharian utama di desa ini.

Keceriaan anak anak

Pasir putih dan rumput laut yang melimpah



Saya percaya selalu ada harapan yang lebih baik di depan sana. Asal kita tidak pernah berhenti untuk berusaha, bersyukur, dan dilandasi doa

untuk engkau disana saudaraku setanah air 


untuk foto yang lebih lengkap bisa dilihat disini :