“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah

(Rumah Kaca, h. 352)” 
― Pramoedya Ananta Toer

Sebuah perkataan dari Pramoedya Ananta Toer yang sangat menggugah saya untuk menulis. Menulis untuk keabadian, menulis untuk diri sendiri, itulah yang saya sadari masih sangat jarang saya lakukan.
Cerita kapan saya menulis, menulis untuk apa, dan apa sih yang saya tulis sebenarnya dimulai dari saya masih kecil ketika masih menginjak sekolah dasar. Ibu saya membelikan sebuah buku yang didalam nya berisi pedoman untuk menulis untuk anak kecil, yang berisi sebuah paragraf dan selanjutnya saya harus isi, tentang menulis karangan dari sebuah gambar, tentang mengisi sebuah sketsa berisi dialog sehari hari. Adik dan kakak sama sama diberikan buku itu, dan diantara kita bertiga saya lah yang paling malas mengisi karangan karangan itu, saya isi dengan gambar, saya coret coret bukunya, kalau pun ada yang terisi itu hanyalah beberapa paragraf saja. Berbeda dengan kakak saya yang sangat rajin mengisi buku itu.
Ketika sekolah menengah, saya teringat saya paling malas apabila ada pelajaran bahasa indonesia, dimana pelajarannya hanyalah mengarang cerita, membuat pidato, membuat puisi dan sebagainya. Nilai Bahasa Indonesia pun sangat tidak memuaskan ketika itu.
Setelah menginjak perkuliahan, tepatnya pada  akhir tahun 2008 saya iseng iseng membuat blog, yaitu awalnya dinamai Kucinggeje karena memang awalnya saya membuat blog hanya iseng dan konten nya tentang cerita cerita “Geje”atau tidak jelas. Saya berhasil membuat cerita cerita “Asal” dengan tidak memperhatikan struktur paragraf, struktur kalimat, diksi dan lain lain.
Lalu Ketika pertengahan tahun 2009 saya berhenti membuat tulisan tulisan “geje”. Saya mulai membaca buku Khalil Gibran, membaca buku Pramoedya Ananta Toer, membaca novel Dewi Lestari, dan membaca tulisan sastra dari Kompas Media. Saya pelajari pemilihan kata, struktur kalimat, paragraf dan lain lain secara otodidak. Akhirnya saya mencoba membuat tulisan tulisan prosa dengan menggunakan prinsip analogi seperti   CincinSebuah Paragraf Deskripsi KehidupanBatu di Jalan, Setelah itu saya sangat sering menulis puisi,  puisi mengenai pengalaman pribadi, atau hanyalah fiksi belaka, beberapa ada yang dipublish dan banyak juga yang hanya masuk kedalam kolom draft. 
 
Mulai tahun 2010 saya sedang sangat senang senangnya Travelling, atau jalan jalan, melihat dunia lebih luas,   walau saat ini hanya beberapa daerah di Indonesia yang saya kunjungi tapi suatu saat saya akan berkeliling dunia mulai tahun 2014 ketika saya lulus kuliah. Setiap perjalanan itu tak lupa saya konversi menjadi tulisan, sehingga konten blog pun berubah saat itu menjadi “Sleep Less, Dream More, Travel Often”, begitu pula dengan doman blog saya ubah menjadi Http://www.Ghoziankarami.com .
Saya menulis hanya mengkonversi apa yang ada dikepala kedalam tulisan, saya tidak tahu apakah tulisan itu menarik, dapat dimengerti, atau ancur. Yang paling penting adalah terkadang saya suka meluangkan waktu untuk membaca kembali tulisan tulisan saya dahulu, dan tulisan tulisan itu seperti mesin waktu yang membawa saya kembali ke masa lampau dan itu sangat sangatlah menyenangkan.
“Ketika sebuah karya selesai ditulis, maka pengarang tak mati. Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi” 
 
“Menulislah minimal untuk dirimu sendiri karena itu sangatlah menyenangkan”