“Selamat tinggal Rangga, mudah mudahan kita bisa jumpa lagi toh”

Kata kata terakhir yang saya ucapkan kepada Rangga, anak berusia belasan tahun yang tinggal di desa adat Pantai Wanyapu, Kodi, Sumba Barat Daya, NTT.  Walaupun pelan pelan saya mengucap kalimat berbahasa indonesia kepada Rangga, tetapi ia hanya membalas dengan senyuman. Bahasa Indonesia merupakan sesuatu yang langka dan mahal disini. Hanya segelintir orang saja yang mengerti bahasa indonesia : pelajar SD, SMP, SMA, atau mereka yang memang bekerja di perusahaan lokal maupun asing yang setiap harinya menggunakan bahasa indonesia. Jangan harap kita dapat berbicara bahasa indonesia dengan lancar apalagi dengan warga lokal yang sudah berusia lanjut.

Senyuman tetap terlihat menguntai pada raut wajah Rangga ketika saya meminta kepada ia untuk mengantar saya berkeliling. Kalau kata pepatah sih “Peace Begins With a Smile”

Rangga bersekolah di SD Wikico Rongo, sekitar 10 km jauhnya dari Desa Wanyapu, ia terbiasa berjalan kaki kesana itupun terkadang tidak ada guru yang mengajar karena disana masih sangat kekurangan SDM terdidik untuk mengajar. Untuk keperluan mandi cuci, warga sumba barat daya ini sangatlah kesulitan, karena daerah nya yang didominasi oleh batugamping, jarang sekali sumber air disana, sehingga air disana diperjualbelikan dengan harga yang lumayan mahal (Sekitar Rp 170rb per satu tangki)

Jadi masihkah ada kah alasan anda untuk tidak bersyukur atas nikmat yang telah anda terima?

Happiness is a direction, not a place – Wanyapu Beach NTT